| Fakta Sama Terasa Beda |
|
|
|
| Written by Norman Firman MBA., CBA., CPI | |
| Wednesday, 02 September 2009 | |
|
Akhir-akhir ini saya sering melalui kembali suatu jalan di Jakarta, yang dulu sekitar 19 tahun lalu sering saya lalui karena ini adalah jalan menuju ke kampus saya. Dahulu setiap pagi saya melalui jalan ini dengan sepeda motor dan jalan ke kampus tersebut saya rasakan cukup panjang. Namun kini, jalan yang sama itu terasa pendek dilalui. Akhir-akhir ini saya sering melalui kembali suatu jalan di Jakarta, yang dulu sekitar 19 tahun lalu sering saya lalui karena ini adalah jalan menuju ke kampus saya. Dahulu setiap pagi saya melalui jalan ini dengan sepeda motor dan jalan ke kampus tersebut saya rasakan cukup panjang. Namun kini, jalan yang sama itu terasa pendek dilalui. Belum lama ini saya juga pergi ke satu daerah yang dulu sekitar 10 tahun lalu sering saya kunjungi. Dulu saya sering makan di daerah ini bersama dengan teman-teman. Tetapi sekarang, daerah itu terasa asing bagi saya. Dalam hati saya bertanya, kenapa jalan yang dulu terasa jauh sekarang terasa dekat dan kenapa daerah yang dulu begitu familiar sekarang terasa asing. Saya mencoba melihat kembali hal apa yang terjadi pada saya sehingga mengakibatkan hal ini. Sesuatu yang faktanya sama tetapi sekarang terasa berbeda. Dalam perenungan, jawaban itu muncul. Sebagai seorang trainer dan speaker, banyak waktu saya dihabiskan di perjalanan. Dalam 1 hari kadang-kadang saya bisa berada 3 kota yang berbeda : subuh berangkat dari Jakarta ke Bandung dengan mobil untuk memberikan training, siang sekitar jam 12.00 pulang dari Bandung ke Jakarta dan sore sekitar pukul 16.00 berangkat ke Ciawi hingga sekitar jam 21.30 dan pulang kembali ke Jakarta. Itu dengan mobil, kadang-kadang dengan pesawat : pagi dari Jakarta ke Pekanbaru, sore langsung ke Surabaya transit Jakarta. Belum lagi kalau hari libur Lebaran, saya mengajak keluarga ke Semarang dengan mengendarai mobil dan itu bisa memakan waktu 7-12 jam. Dengan banyaknya perjalanan yang saya tempuh dan menghabiskan waktu berjam-jam, maka jarak tempuh yang hanya 20 menit sekarang terasa begitu dekat dan cepat. Sekarang bagaimana dengan merasa asing di suatu daerah yang dulu sering kita kunjungi? Jawabannya ada di dalam otak kita. Ketika kita mempelajari sesuatu, maka otak kita membuat ikatan antar sel syaraf. Semakin sering kita mengulang hal tersebut, ikatan tersebut makin kuat. Kita menjadi terbiasa akan hal yang diulang-ulang tersebut. Tetapi begitu kita jarang melakukan, ikatan ini menjadi lemah walaupun tidak hilang. Apa makna pengalaman ini untuk peningkatan penjualan dan bisnis anda? Ada 2 hal yang bisa saya sampaikan dalam artikel ini : semakin berat penolakan yang anda terima sebagai seorang penjual, semakin anda merasa dipermalukan, kesal yang sampai ke ubun-ubun, berarti sebenarnya anda menjadi semakin kuat. Penolakan yang kecil akan menjadi tidak berarti bagi anda karena sudah terbiasa dengan penolakan yang lebih dahsyat. Jadi bersyukurlah ketika anda menemui penolakan yang dahsyat karena berarti anda telah naik kelas dalam hal menerima penolakan dari pelanggan. Sama seperti sekolah, ketika kita naik kelas, maka pelajaran kelas di bawah kita menjadi terasa mudah. Padahal mungkin dulu belajarnya mati-matian. Hal kedua yang bisa dipelajari dari cerita di atas: jagalah hubungan dengan para pelanggan anda. Semakin sering contact terjadi, mereka akan semakin familiar dengan anda. Begitu anda mulai jarang menghubungi, hubungan dengan pelanggan akan melemah dan hubungan anda akan menjadi canggung lagi. Semoga 2 hal ini dapat bermanfaat bagi anda dan dapat meningkatkan penjualan dan bisnis anda. Salam Omzetter! Norman Firman MBA., CBA., CPI Sales & Marketing Performance Consultant & Trainer "To Improve Result is to Change Performance" This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it |
| < Prev | Next > |
|---|











