Kok tidak ditangkap? PDF Print E-mail
Written by Norman Firman, MM., MBA., CBA   
Wednesday, 17 June 2009
Suatu pagi saya melintas di suatu jalan di Jakarta pusat. Di tengah-tengah perjalanan, saya melihat ada motor yang berbalik arah di jalur cepat. Setelah itu motor-motor yang berbarengan dengan mobil saya di jalur cepat segera masuk ke jalur lambat. Wah, pasti ada patroli polisi di depan, demikian pikir saya. Benar saja, sekitar 50 meter di depan, saya melihat ada mobil polisi yang sedang menghadang motor-motor yang mengambil jalur cepat. Lewat kaca spion saya melihat ada 2 motor di belakang saya yang tetap nekat mengambil jalur cepat. Dalam hati saya berkata, pasti mereka akan diberhentikan oleh polisi di depan. Ketika 2 motor tadi melewati mobil saya, motor yang di depan dikemudikan oleh seseorang yang memakai jaket, tetapi celananya adalah celana loreng seperti yang biasa dipakai oleh TNI dan juga memakai sepatu boot seperti punya TNI. Di belakang motor tersebut, pengemudinya hanya memakai jaket dan celana biasa.
Dalam hati saya mempunyai 2 pertanyaan :
  1. Apakah polisi akan memberhentikan motor yang didepan, yang pengemudinya memakai celana loreng?
  2. Apakah polisi akan memberhentikan motor yang dibelakangnya, yang pengemudinya menggunakan jaket dan celana biasa?

Ketika semakin mendekati polisi yang menghadang, motor yang dikemudikan oleh orang yang memakai celana biasa, mengambil posisi pas di belakang motor yang dikemudikan oleh orang yang memakai celana loreng. Dan apa yang terjadi... Ke-2 nya TIDAK diberhentikan oleh polisi.

Untuk motor yang didepan, yang pengemudinya menggunakan celana loreng, saya tidak heran. Mungkin orang ini adalah dari TNI (walaupun salah juga, menggunakan jalur cepat untuk sepeda motor). Yang membuat saya heran, polisi juga TIDAK memberhentikan motor yang dibelakangnya. Kenapa bisa demikian………..???

Salah satu penjelasan dibalik sikap para polisi ini, di dunia Influence dan Persuasion dikenal sebagai Prinsip Konsistensi. Ketika seseorang melakukan sesuatu, maka ia ingin terlihat konsisten dengan apa yang ia lakukan sebelumnya. Dalam contoh polisi, ketika ia tidak memberhentikan motor yang didepan, maka ia harus konsisten dengan tindakannya, tidak memberhentikan juga, motor yang dibelakangnya.

Misalkan saudara anda sedang mengalami kesulitan bisnis. Penjualannya mengalami penurunan. Pertanyaan saya (silakan jawab dalam hati anda):
  • Apakah anda mau saudara anda tersebut keluar dari kesulitannya? (silakan jawab dalam hati sekarang!)
  • Apakah anda mau membantu saudara anda itu seandainya anda bisa membantunya? (silakan jawab lagi dalam hati sekarang!)
  • Jika anda mau saudara anda keluar dari kesulitannya dan membantu dia seandainya anda bisa membantunya, tentunya anda juga mau mengirimkan artikel ini untuk membantu dia mempelajari Prinsip Konsistensi yang bisa ia gunakan untuk meningkatkan penjualan bisnisnya...

Anda lihat, saya memakai prinsip konsistensi ini untuk membujuk anda memberikan artikel ini kepada saudara anda.
OK, sekarang kita rangkum agar Prinsip ini dapat anda gunakan :
  • Tentukan pesan yang ingin anda sampaikan agar diterima oleh si pembeli.
  • Buatlah beberapa pernyataan pendahulu yang kemungkinan besar dijawab “YA” atau “SETUJU”.
  • Jika dia sudah beberapa kali menjawab “YA” atau “SETUJU” baru nyatakan pesan anda kepada si pembeli, maka akan meningkatkan kemungkinan ia menjawab “YA” atau “SETUJU” karena ingin terlihat konsisten.

Semoga artikel ini bermanfaat dan dapat membantu anda meningkatkan penjualan dan bisnis anda.

Salam Omzetter!
 
< Prev   Next >