Workshop Terbaru

Seminar Communication Intelligence
Seminar Communication Intelligence
Rp.500 000
Rp.397 000
You Save: Rp.103 000
Add to Cart

Produk Rekomendasi

Meningkatkan Sales dgn Promosi yg Menggunakan Uang Org Lain
Meningkatkan Sales dgn Promosi yg Menggunakan Uang Org Lain
Rp.165 000
Rp.150 000
You Save: Rp.15 000
Add to Cart
Seminar Motivation Day
Seminar Motivation Day
Rp.297 000
Add to Cart
Bagaimana Membuat Iklan Anda Mempunyai Kekuatan Pelet
Bagaimana Membuat Iklan Anda Mempunyai Kekuatan Pelet
Rp.165 000
Rp.150 000
You Save: Rp.15 000
Add to Cart
Political Marketing PDF Print E-mail
Written by Norman Firman, MM., MBA., CBA   
Monday, 02 March 2009
Pemilu sudah hampir di depan mata. Salah satu surat kabar menayangkan berita bahwa banyak dari para caleg yang menghabiskan ratusan juta hingga miliaran agar dapat duduk di Senayan. Anda juga dapat menyaksikan bagaimana para caleg tersebut berlomba-lomba mengiklankan dirinya, mulai dari billboard, iklan koran, website, dsb, yang tentunya memakan biaya tidak sedikit. Pertanyaan selanjutnya, untuk para caleg yang mengeluarkan uang tersebut, apakah yang mereka lakukan itu efektif? Ataukah yang mereka lakukan hanya seperti menggarami laut? Ada berita miris, ada caleg yang sampai menjarah kebun sawit warga agar dapat menjual sawit tersebut untuk mendanai kampanye.
Pemilu sudah hampir di depan mata. Salah satu surat kabar menayangkan berita bahwa banyak dari para caleg yang menghabiskan ratusan juta hingga miliaran agar dapat duduk di Senayan. Anda juga dapat menyaksikan bagaimana para caleg tersebut berlomba-lomba mengiklankan dirinya, mulai dari billboard, iklan koran, website, dsb, yang tentunya memakan biaya tidak sedikit. Pertanyaan selanjutnya, untuk para caleg yang mengeluarkan uang tersebut, apakah yang mereka lakukan itu efektif? Ataukah yang mereka lakukan hanya seperti menggarami laut? Ada berita miris, ada caleg yang sampai menjarah kebun sawit warga agar dapat menjual sawit tersebut untuk mendanai kampanye.

Para caleg itu seringkali berpikir dari sudut pandang mereka sebagai caleg, bukan dari sudut pandang calon pemilih. Coba saya tanya anda, dari begitu banyak kampanye yang telah dilakukan oleh para caleg, sebut nama caleg yang anda kenal. Ada…? Kalau saya yang ditanya, maka nama yang keluar di benak saya adalah nama-nama selebriti yang juga jadi caleg. Sedangkan para caleg yang tidak saya kenal sebelumnya, walaupun menggunakan billboard sebesar gajah, luput dari ingatan saya. Mengapa demikian?

Dunia marketing sebenarnya telah lama mempelajari hal ini, masalahnya banyak dari para caleg yang tidak menguasai marketing. Dalam dunia marketing, salah satu yang dipelajari adalah Perilaku Konsumen. Para pemilih dalam pemilih juga merupakan konsumen bagi para caleg, sehingga para caleg-pun perlu mempelajari ilmu Perilaku Konsumen ini. Salah satu konsep yang ada dalam Perilaku Konsumen adalah yang dikenal dengan nama AIDA, singkatan dari Awareness, Interest, Desire, Action. Para selebritis yang menjadi caleg mendapatkan keuntungan karena mereka sudah dikenal (Awareness) oleh masyarakat. Jika mereka dipandang sebagai artis yang berbobot, maka Interest dan Desire akan terbentuk di masyarakat sehingga memudahkan masyarakat untuk Action di hari pemilu. Namun bagaimana dengan Caleg yang bukan selebritis?

Langkah pertama yang harus dilakukan oleh para Caleg adalah meningkatkan Awareness diantara calon pemilihnya. Ia harus melakukan sesuatu agar dapat dikenal oleh para pemilih. Para caleg memang melakukan sesuatu untuk dikenal, masalahnya para pesaing mereka juga melakukan hal yang sama. Sama-sama memasang billboard, sama-sama beriklan di koran atau majalah, dsb. Kalau semua melakukan hal yang sama, maka sulit bagi calon pemilih untuk mengenali para caleg tersebut. Ketika semua orang melakukan hal yang sama, para caleg yang kreatif kemudian melakukan sesuatu : saya harus berbeda dengan para caleg lain. Masalahnya banyak kreatifitas yang justru menurunkan citra dari si caleg, misalnya : memasang foto anaknya yang selebritis, menggunakan kata-kata yang justru menjadi olok-olok, dsb. Belakangan ini beredar di internet foto-foto dari para caleg yang dianggap tidak percaya diri. Maunya kreatif dan berbeda, tetapi justru Awareness yang didapat adalah hal yang negatif. Dari langkah pertama ini saja, saya yakin banyak caleg yang gugur karena tidak dikenal dan hanya membuang-buang uang untuk sesuatu yang tidak mendatangkan hasil.

Hal lain yang ingin saya angkat adalah : dengan menggunakan billboard, iklan dsb, para caleg sebenarnya ingin agar para pembaca melakukan Action/Tindakan untuk memilih mereka di hari Pemilu. Saya mencoba berpikir sebagai calon pemilih. Ketika saya melihat iklan-iklan mereka, yang ada dalam pikiran saya : “Siapa Anda?, saya tidak kenal”. Menurut saya, akan sulit sekali jika tujuan dari beriklan adalah agar para pembaca memilih mereka. Akan lebih baik, kalau tujuan iklan itu bukan ditujukan agar pembaca memilih, melainkan mengarahkan pembaca untuk melakukan tindakan pendahuluan. Misalnya, mengarahkan pembaca untuk membuka website, menghadiri acara olahraga yang disponsori oleh si caleg, nonton bareng bersama, dsb. Dengan adanya tindakan pendahuluan ini, sebenarnya akan membantu para caleg tersebut karena jika calon pemilih melakukan apa yang diiklankan (membuka website, datang ke acara olahraga, ikut nonton bareng bersama) maka secara tidak sadar calon pemilih sudah mulai melakukan komitmen kecil-kecilan. Nanti di website atau di acara yang dilakukan, barulah si caleg mulai berkampanye untuk membangun Interet, Desire hingga meminta para pemilih untuk Action di hari pemilu.

Pemilu tinggal beberapa hari lagi, mereka yang mengetahui bagaimana pikiran calon pemilih bekerja akan mendapatkan hasil. Bagi yang hanya sekedar mengeluarkan uang tanpa strategi komunikasi dan marketing yang jelas, mereka tetap berguna karena uang miliaran hingga triliunan rupiah yang sekarang ini mengalir di masyarakat tentunya banyak membantu perekonomian Indonesia yang terkena imbas krisis global.


Salam Omzetter!
 
< Prev   Next >